spacer
spacer search

The Hindu Portal
Pusat Data dan Informasi

Search
spacer
Sekilas Info
HB.net tampil dengan design dan beberapa feature baru, sebuah perpaduan seni dan teknologi! Temukan informasi-informasi terbaru seputar Hindu di Jawa Timur. Just Click and Surf www.hindu-brawijaya.net!
header
Home
Blog
Berita dan Artikel
Buku Tamu
Kalender
Acintya
Pengunjung Ke :
Kami punya 15 tamu online
 
Home

JANGAN PUTAR JARUM SEJARAH Cetak E-mail
Peranserta dari Suryantha WP   
Selasa, 25 April 2006
 
Pagi ini (lagi-lagi) saya membaca buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer karya Jujun S. Suriasumantri yang dulu menjadi bahan kuliah saya di semester satu. Dari sekian buku penunjang kuliah yang saya punya, ini buku favorit saya. Kendati dulu dibeli di emperan Blok M (blok Majapahit, bursa buku-nya Malang) yang sekarang sudah almarhum dan pindah ke jalan Wilis sehingga anak mahasiswa Malang menyebutnya jadi Blok W, tetap saja jadi buku terbaik bagi saya.


Kata buku itu sih, jaman dulu pada waktu peradaban masih primitif, perbedaan pada berbagai organisasi kemasyarakatan belum tampak karena memang belum adanya pembagian pekerjaan. Maka tak heran kalau pada jaman itu seorang ketua suku bisa merangkap jadi hakim, penghulu, panglima perang, bahkan dukun. Jadi, seorang yang menguasai ilmu perang, juga adalah seorang ahli hukum, ahli perkawinan, atau ahli pengobatan

Nah, seiring dengan perkembangan peradaban manusia, konsep dasar yang memperlihatkan persamaan seperti itu ikut berubah. Mulai timbul spesialisasi pekerjaan yang mengubah struktur kemasyarakatan. Hal ini muncul sebagai imbas dari tumbuhnya pohon-pohon pengetahuan yang berkembang menurut jalannya sendiri-sendiri.

Sesaat setelah menutup buku itu, saya langsung mencocokkan apa kata si buku dengan keadaan kita sekarang. Hasilnya ? Bisa dikatakan sesuai. Contohnya saja ahli pada ilmu pengtahuan alam terspesialisasi lagi menjadi ahli fisika, kimia, atau ahli biologi. Sang ahli Fisika bisa saja sangat fasih dalam bidang mekanika, elektronika, atau bahkan relativitas.

Tapi, bila kita menyimak lagi apa yang menjadi headline di koran-koran, apa yang

ditayangkan televisi lewat program news-nya, tampak bahwa kondisi kehidupan masyarakat saat ini tidak seluruhnya larut dalam “perkembangan” tersebut di atas. Beberapa kelompok merasa bahwa apa yang mereka yakini adalah yang paling benar. Mereka saling bersaing untuk membuat keyakinan mereka diakui.

Tapi kadang pengakuan “benar” saja tidak cukup. Segala peraturan yang dibuat harus berdasarkan atas keyakinan mereka. Sampai-sampai moral orang lain ikut diatur dengan menggunakan standar mereka. Sialnya, semua itu kadang dilakukan dengan pemaksaan, ancaman, dan (makin parah lagi) kekerasan.

Tampaknya ada kecenderungan kalau kita justru sedang menuju ke kehidupan primitif lagi. Di satu sisi terjadi (meminjam istilah dari demo artis yang dikutip oleh beberapa infotainment) penyeragaman budaya. Di sisi yang lain, beberapa kelompok terkotak-kotak ke dalam suku-suku model baru yang sekarang disebut agama.

Nah, apakah kita akan benar-benar kembali ke jamannya Flinstone? Apa yang bisa kita lakukan?

Bukan bermaksud menggurui, mungkin sebaiknya kita merenungkan kalimat yang saya temukan pada buku bacaan favorit saya di atas, “Jangan putar jarum sejarah !” (Poharin, 0406)
Terakhir Diperbarui ( Sabtu, 12 Agustus 2006 )
spacer
Jajak Pendapat
Setujukah Anda dengan rancangan UU Anti Pornografi dan Porno Aksi?
  
Pesan Kilat

Nama

URL/Email

Pesan



spacer